“A Father’s Prayer” : Puisi Douglass Mc. Arthur

Menjadi seorang ayah adalah sebuah anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh keikhlasan dan kesadaran yang kuat oleh seorang pria yang telah menjadi ayah. Seorang anak, laki-laki ataupun anak perempuan, adalah untuk di bentuk masa depannya, karakternya, akal dan budi pekertinya, dan menanamkan nilai luhur agama disetiap langkah kehidupannya. Karena pada hakikatnya ketika seorang pria mengemban amanah sebagai seorang ayah, maka dipundaknya telah Tuhan titipkan sebuah kemuliaan untuk dijaga dengan sepenuh jiwa dan raganya.
        Jenderal Douglas Mc. Arthur seorang perwira tinggi Amerika Serikat yang lahir pada 26 Januari 1880 dan meninggal pada usia 84 tahun pada tanggal 8 April 1964 adalah seorang jenderal yang memainkan peran penting di teater Pasifik pada perang dunia II pada tahun 1930an. Sebagai seorang ayah Douglas Mc. Arthur telah menuliskan sebuah puisi yang sangat terkenal, bahkan sampai hari ini. Puisi yang sangat indah, puisi yang menjadi do'a, dan puisi yang menjadi harapan dari seorang ayah untuk putranya. Berikut naskah asli dari puisi Douglas Mc. Arthur "A Father's Prayer"

“Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, brave enough to face himself when he is afraid, one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory.

“Build me a son whose wishes will not take the place of deeds; a son who will know Thee — and that to know himself is the foundation stone of knowledge. 

“Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail …” 

“Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will reach into the future, yet never forget the past.

“And after all these things are his, add, I pray, enough of sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously.

“Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, and the meekness of true strength.

“Then, I, his father, will dare to whisper, ‘I have not lived in vain.'”


      Berikut adalah terjemahan dari naskah asli ke Bahasa Indonesia dari Puisi Douglas Mc. Arthur "A Father's Prayer"
Bentuklah putraku Tuhan menjadi seseorang yang cukup kuat untuk tahu kapan ia sedang lemah,
dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri ketika dia takut.
Seseorang yang tetap bangga dan tegar ketika dikalahkan dalam perang,
serta rendah hati ketika menang.
Bentuklah putraku menjadi manusia yang tidak hanya berharap, tapi juga berbuat.
Seseorang putra yang akan mengenal Engkau,
dan menyadari bahwa mengenal dirinya sendiri adalah dasar dari pengetahuan.
Tuntun dia, pintaku, bukan di jalan kemudahan dan kenyamanan,
Tetapi di bawah tekanan kesulitan dan tantangan.
Biarkan dia belajar untuk berdiri tegar di tengah badai.
Biarkan dia belajar belas kasih kepada dia yang gagal.
Bentuklah putraku menjadi seseorang yang hatinya bersih,
yang cita-citanya sangat tinggi.
Seorang putra yang akan menguasai dirinya sendiri sebelum ia berusaha memimpin orang lain.
Seseorang yang akan meraih masa depan, tetapi tak pernah melupakan masa lalu.
Dan setelah semua ini ada padanya, pintaku, berikan ia rasa humor sehingga ia dapat tetap serius, tapi tidak pernah membawakan  dirinya dengan terlalu serius.
Beri dia kerendahan hati sehingga ia selalu ingat kesederhanaan  dari kemuliaan sejati.
Pikiran terbuka terhadap kebijaksanaan sejati dan kelemahlembutan dan kekuatan sejati.
Lalu aku, ayahnya, akan berani berkata “Hidupku tidak sia-sia.”

0 komentar:

Posting Komentar